Merefleksikan Jejak
Universalitas Kebenaran
SEMARANG,
Minggu(2/11) at 20.00 - Sebelumya, aku bingung harus memulai menulis ini dari
mana, banyak hal yang ingin aku sampaikan namun ide-ide ku melayang tak tentu
arah. Satu pesan E-mail aku terima dengan perasaan yang tak karuan, heran,
senang dan aku senyum. Malam ini aku merasa letih, capek dan sangat haus karena
berkelana jauh. Bukan karena aku baru aja camping seperti yang biasa aku
lakukan dengan temen-temen se perjuangan. Bukan juga karena aku survive di tempat
yang belum pernah aku lalui. Malam ini aku mencoba menutup mata, kembai ke
jaman yang di sebut awal peralihan. Peraihan dari anak-anak menuju remaja. Serpihan
kenangan-kenangan yang begitu usang dan teramat aku ingin menghapusnya kini
malah aku berusaha mengingatnya dengan terperinci. Bahkan aku harus muliskan
nya,
Mungkin
nanti adalah momentum curhat atau mingkin ini adalah tulisan ngawur yang aku
menuiskan nya dalam keadaan tak sadar. Yah, tulisanku ini mengandung banyak
refleksi dan menggunakan perspektif yang ada. Tidak banyak mengambil refrensi
dari buku atau orang lain. Ini real dari realita, apa yang dirasakan dan tidak
ada unsur penambahan yang berlebih. Huuuufttttt......... yah se kali lagi aku
bukan cerpenis yag mampu mengemas cerita agar menarik.
Perjalanan
akan aku mulai ketika aku menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Atas yang
menjadi kebanggaanku dan “tentangmu menjadi bagian cerita tersendiri mengisi
sejarahku disana”. Sejarah yang tak pernah usang.
“TABEL
PERIODIK” entah apa persepsimu mengenai itu. Namun aku sangat berterima kasih
pada tabel periodik yang singkat saja membuatku dekat dengan RATNA atau sering
aku memanggilnya nax/ nanax, entah apa yang membuatku bisa dekat dengan nya,
nyaman mendengar namanya. Namanya selalu menemani aku di setiap saat kala itu,
se kalipun ini aku berebihan. Sampai mungkin ratna bosan dengan XMX/ pesan
singkat yang sering aku luapkan. (mohon nanti bisa di tanggapi dengan jujur
apakah ketika aku xmx ratna teramat sering merasa bagaimana?)
Keakrapan
kita di mulai di dunia maya. Dunia yang mungkin ini mimpi, tapi bagiku ini
seragkaian dari dunia nyata. Banyak obrolan yang di bahas dengan berbagai tema
mewarnai hari-hari itu.
Aku
tidak sadar memendam perasaan kasih sayang padamu ratna, sejak aku mengenalmu.
Salam perkenalanku adalah sapaan cinta, cinta dengan kebenaran yang aku yakin
direstui TUHAN.
Samapi
tiga bukan berturut-turut aku menuliskan kejadian yang itu berhubungan denganmu.
Berhubungan dengan aktivitasmu di sekolah, ruang lingkup yang sangat kecil dan
mudah menemukanmu. Ketemu berpapasan atau hanya sekedar aku jadi pengamat jarak
jauh menjadi catatan penting untuk aku ingat.
Ku
rasakan Hari-hariku mulai berkecamuk, aku secara pribadi tidak mampu
mengungkapkan perasaan yang berkecamuk ini. Banyak hal yang aku fikirkan kala
itu, aku takut malah mengakhiri kebersamaanya yang mulai terbangun. Kebersamaan
yang sudah mulai aku nyaman akan ratna wilandari. Fiqirku juga tidak terlalu
terburu-buru, butuh waktu mengenalnya lebih dalam. Atau dalam benakku takut kau
menolak.
Yah, sekali lagi dulu aku masih belum peka
terhadap realita, aku belum peka terhadap perasaan cewek. Aku belum peka waktu
itu menghadapi problem serius ini, entah aku apatis atau bahkan yang lebih
parah lagi. Aku waktu itu masih agak canggung dengan cewek, maklum masa
peralihan.
Aku mengagumi juga sangat mencintaimu kala
itu. Cinta yang bersemi membuat semangat, semangat menemukanmu di sudut-sudut
sekolah. Aku hanya mengamatimu dari jauh, melihatmu makan dikantin belakang, kantin
depan pun aku sering melihatmu jalan lewat pinggiran lapangan basket. Melihatmu
duduk di teras kelas x.7, melihatmu jalan pulang keluar sekolahpun aku sempat-
sempatkan melihat itu tiap hari. Aku jadi penggila berat. Sangat berat jadi
seorang cowok labil yang tak tau apa-apa.
Memberanikan
diri bertatap muka atau hanya sembari ngobrolpun aku jarang melakukanya, sangat
tak aku percayai.ini ironis bagi sang pemuja. Dejak jantungku berdebar-debar
samapai mau bicara apapun, ketika aku bertemu deganmu tak bisa se santai yang
dibayangkan, yah seperti yang kau tau ratna aku hanya bisu dan se olah-olah cuek.
Cerita
tentangmu bnyak mewarnai penabiru ku, dan aku tak mau menuis satu persatu itu. Yahhh
(menghea nafas),,,,Waktu aku bersamamu mungkin banyak yang membekas, sekalipun
menurutmu biasa biasa saja. Menurutku itu menjadi gairah hidup. Gaerah hidupku
saat ini juga tak lepas tanpamu.
Jantungku
sepersekian detik berhenti, satu pesan xmx mu mengenai status hubungan ratna
dengan faisal. Perasaanku tak terbayangkan, aku tidak mengungkapkan perasaan
itu di kamu sayangku. Dunia khayal, lagi lagi aku berada di dunia mimpi yang
mengikatku erat dan tak mau melepaskan ku. Sayap sayap ku tentangmu mulai aku
pudarkan...
Huuuuftttttt......
heran dan kaget!!! Tak bisa di bayangkan perasaanku. Saat aku menuliskan ini
pun masih sisa memori.
Mohon
maaf apabila apa yang aku tuliskan ini malah membuatmu berfikir dan bertanya,,,
namun ini refleksi bersama menggali universalitas kebenaran.Harapanya juga
banyak kebenaran yang terungkap sebagai bahan pelurusan sejarah. Kebenaran yang menjadi rujukan kelak yang akan
datanguntu kita bersama.



